Sorot Relevansi, HMI Komisariat FITK Gelar Diskusi Reflektif di Dies Natalis HMI yang Ke-79
Semarang, 5 Februari 2026 – Memperingati Hari Ulang Tahun (Dies Natalis)-nya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FITK menggelar diskusi reflektif dengan tema “Refleksi Kader: Masih Relevankah HMI dengan Mahasiswa dan Islam?”. Acara yang berlangsung di Sekretariat HMI Korkom Walisongo tersebut menghadirkan Muhammad Ibnu Alghifari sebagai pemantik dan Nilna Nailassa’adah sebagai moderator.
Diskusi yang dimulai pukul 15.00 WIB ini bertujuan mengkaji posisi, peran, dan kontribusi HMI di tengah dinamika mahasiswa dan perkembangan pemikiran Islam kontemporer. Para peserta yang hadir, terdiri dari kader HMI Komisariat FITK dan Komisariat selingkup Koorkom Walisongo Cabang Semarang, diajak untuk berdialog kritis mengenai tantangan dan masa depan organisasi.
Nilna Nailassa’adah sebagai moderator mengarahkan diskusi dengan menekankan pentingnya introspeksi. “Refleksi ini adalah momen untuk jujur melihat diri. Apakah langkah kita selama ini sudah mendekatkan HMI pada mahasiswa dan membumikan ajaran Islam, atau justru menjauh?” tanyanya membuka ruang dialog.
Sementara itu, Muhammad Ibnu Alghifari, selaku pemantik, dalam paparannya menyampaikan, “Relevansi bukan soal ada atau tiada, tetapi sebuah proses yang harus terus diperjuangkan. HMI harus mampu menjawab kegelisahan riil mahasiswa hari ini, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.”
Diskusi berlangsung interaktif dan diwarnai perbedaan pandangan. Salah satu peserta, Ilham Fery, menyampaikan pendapat kritisnya. “Saya melihat HMI masih terjebak dalam rutinitas organisasi yang monoton dan kurang inovatif. Banyak program yang sifatnya seremonial belaka, tanpa dampak nyata bagi masalah mahasiswa seperti krisis kepemimpinan, tekanan ekonomi, atau degradasi moral. HMI perlu keluar dari zona nyaman dan lebih banyak turun ke lapangan,” ujarnya tegas.
Pendapat Fery tersebut memantik tanggapan beragam dari peserta lain. Sebagian mendukung pandangan tersebut sebagai kritik konstruktif, sementara yang lain menilai HMI telah berupaya beradaptasi meski menghadapi berbagai keterbatasan.
Acara berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta. Diskusi ditutup dengan kesimpulan bahwa relevansi HMI perlu terus dibangun melalui adaptasi terhadap isu-isu kekinian, penguatan literasi keislaman, dan konsistensi dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemaslahatan umat.
Post a Comment